Pembahasan Lengkap Mengenai Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar

Bismillah. Artikel ini mulai ditulis ketika Malam 17 Ramadhan. Malam yang sebagian orang mengira Al Qur’an diturunkan saat itu. Benarkah pemahaman seperti itu? Bolehkah kita mengadakan amalan amalan khusus pada malam 17 Ramadhan? Artikel ini selesai ditulis pada Malam 19 Ramadhan. Malam yang sudah masuk 10 malam terakhir Bulan Ramadhan. Malam yang dikatakan bahwa Lailatul Qadar ada di antara malam itu.

Dalam Artikel ini penulis akan mengupas secara rinci permasalahan mengenai Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qodar.

Daftar Isi

  1. Pembukaan
  2. Daftar isi
  3. Rubrik Pertanyaan Bagi Pembaca
  4. Apakah Nuzulul Qur’an Malam Tanggal 17 Ramadhan?lailatul Qadar Nuzulul Quran
  5. Nuzulul Qur’an = Lailatul Qadar.
  6. Kapan Lailatul Qadar?
  7. Lailatul Qadar Bisa Pada Malam Ganjil Maupun Genap
  8. Bagaimana Metode Al Qur’an Diturunkan?
  9. Bagaimana Metode Nabi Menerima Wahyu?
  10. Cara Mendapatkan Lailatul Qadar.
  11. Doa Yang Dibaca Saat Lailatul Qadar
  12. Tanda Tanda Lailatul Qadar.
  1. Tanda Orang Yang Mendapatkan Lailatul Qadar
  2. Penutup
  3. Artikel Rujukan

Pertanyaan Bagi Pembaca

Setelah selesai membaca seluruh isi artikel ini pembaca dipersilakan untuk menjawab pertanyaan berikut ini di kolom komentar untuk mengetes seberapa paham Pembaca pada isi artikel.

  1. Apa perbedaan antara Lailatul Qadar dan Nuzulul Qur’an?
  2. Bolehkah kita merayakan Malam Nuzulul Qur’an dengan mengkhatamkan Al-Qur’an berjamaah?
  3. Apa doa khusus yang dibaca ketika Malam Nuzulul Qur’an?
  4. Sebutkan metode yang terberat bagi Nabi dalam menerima wahyu?
  5. Apakah kita boleh percaya jika ada orang mengaku bertemu malaikat ketika malam lailatul Qodar?

Apakah Nuzulul Quran Malam Tanggal 17 Ramadhan?

Bukan. Nuzulul Qur’an atau waktu penurunan Al-Qur’an pertama kali yang mencakup penurunan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia, maupun diturunkannya Al Qur’an dari Baitul Izzah pada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam melalui malaikat Jibril adalah ketika Malam Lailatul Qodar. Dan seperti kita sudah sering dengar bahwa Lailatul Qodar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169).

maka jika kita sedikit saja menggunakan logika berpikir kita, maka tidak mungkin Nuzulul Qur’an itu pada Malam 17 Ramadhan.

Setelah kita mengetahui bahwa malam 17 Ramadhan itu bukanlah malam yang istimewa dan sama seperti malam-malam di bulan Ramadhan lainnya, maka pantaskah kita mengistimewakan malam tersebut? Dan walaupun malam 17 Ramadhan itu benar-benar merupakan malam Nuzulul Qur’an, yang juga merupakan malam Lailatul Qodar, pantaskah kita mengistimewakan malam tersebut jika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat Radhiyallahu anhum ajmain tidak mengajarkan untuk melakukan demikian?

Maka semua bentuk pengistimewaan pada malam 17 Ramadhan, seperti mengadakan khataman Al Qur’an, membaca doa khusus, dan amalan-amalan lainnya adalah suatu bentuk KEBID’AHAN, ajaran yang dibuat-buat tanpa adanya dasar dalil dan petunjuk baik dari Al Qur’an dan As Sunnah dan tidak pula dicontohkan oleh para Shahabat dan golongan Salafush Shalih (Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in). Dan semua Bid’ah adalah kemaksiatan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala

مَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ »

Kemudian daripada itu, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Al-Qur’an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang baru dan semua bid’ah adalah kesesatan” (HR Muslim no 2042).

 

Nuzulul Quran = Lailatul Qadar

Hal ini sesungguhnya sudah dengan jelas bisa kita pahami dari membaca surat yang insyaAllah kita semua sudah hafal yaitu surat al-Qadr:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada lailatul qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. Al-Qadr: 1 – 3)

Juga diterangkan dalam surat Adh-Dhukhan ayat 3.

إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (Adh-Dhukhan: 3)

 

Kapan Lailatul Qadar?

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169).

Yang dimaksud dalam hadits ini adalah semangat dan bersungguh-sungguhlah mencari lailatul qadar pada sepuluh hari tersebut. (Syarh Shahih Muslim, 8: 53)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017).

Kapan tanggal pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun (lihat Fathul Bari, 4: 262-266 dan Syarh Shahih Muslim, 6: 40).

Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima, itu semua tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)

Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan (Fathul Bari, 4: 266).

Jangan Memilih Malam Ganjil, Malam Lailatul Qadar Bisa Jadi di Malam Genap

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa sepantasnya bagi seorang muslim untuk mencari malam Lailatul Qadar di seluruh sepuluh hari terakhir. Karena keseluruhan malam sepuluh hari terakhir bisa teranggap ganjil jika yang dijadikan standar perhitungan adalah dari awal dan akhir bulan Ramadhan. Jika dihitung dari awal bulan Ramadhan, malam ke-21, 23 atau malam ganjil lainnya, maka sebagaimana yang kita hitung. Jika dihitung dari Ramadhan yang tersisa, maka bisa jadi malam genap itulah yang dikatakan ganjil. Dalam hadits datang dengan lafazh,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

Carilah malam lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Bisa jadi lailatul qadar ada pada sembilan hari yang tersisa, bisa jadi ada pada tujuh hari yang tersisa, bisa jadi pula pada lima hari yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021).

Jika bulan Ramadhan 30 hari, maka kalau menghitung sembilan malam yang tersisa, maka dimulai dari malam ke-22. Jika tujuh malam yang tersisa, maka malam lailatul qadar terjadi pada malam ke-24. Sedangkan lima malam yang tersisa, berarti lailatul qadar pada malam ke-26, dan seterusnya (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25: 285).

Semoga Allah memudahkan kita bersemangat dalam ibadah di akhir-akhir Ramadhan dan moga kita termasuk di antara hamba yang mendapat malam yang penuh kemuliaan.

 

Bagaimana Al Qur’an Diturunkan

Sebelumnya diturunkan, al-Quran berada di Lauhul Mahfudz. Kemudian diturunkan ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Kemudian Allah turunkan melalui Jibril.

Kita juga meyakini bahwa al-Quran diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur. Sebagaimana realita sejarah yang kita baca. Disamping itu, ada ayat yang menegaskan,

وَقُرْآَنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنزلْنَاهُ تَنزيلًا

Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. al-Isra: 106)

Selanjutnya, ulama berbeda pendapat tentang bagaimana cara Allah menurunkan al-Quran di malam qadar.

As-Suyuthi dalam kitabnya al-Itqan fi Ulum al-Quran menyebutkan ada 3 pendapat,

Pertama, al-Quran turun secara utuh keseluruhan ke langit dunia pada saat lailatul qadar. Selanjutnya Allah turunkan secara berangsur-angsur selama masa kenabian.

Kata as-Suyuthi, ‘Ini adalah pendapat yang paling shahih dan paling terkenal’.

Kedua,  al-Quran turun setiap lailatul qadar selama masa kenabian. Kemudian turun berangsur-angsur kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama setahun itu.

Sebagai ilustrasi, (hanya permisalan untuk mendekati pemahaman)

Di malam qadar tahun 1 Hijriyah, Allah menurunkan 2 juz al-Quran. Selanjutnya, al-Quran sebanyak 2 juz itu, turun secara berangsur-angsur selama setahun. Hingga datang lailatul qadar di tahun 2 H. Lalu Allah turunkan lagi 3 Juz (misalnya) di malam qadar tahun 2 H. Selanjutnya turun  secara berangsur-angsur selama setahun, hingga datang lailatul qadar di tahun 3 H, dan demikian seterusnya.

As-Suyuthi menyebutkan, ini merupakan pendapat Fakhruddin ar-Rozi.

Ketiga, al-Quran pertama kali turun di lailatul qadar. Selanjuntnya al-Quran turun berangsur-angsur di waktu yang berbeda-beda. Ini merupakan pendapat as-Sya’bi.

Dan as-Suyuthi lebih cenderung menguatkan pendapat yang pertama. Beliau menyebutkan riwayat yang mendukung pendapat ini. Diantaranya,

Riwayat dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau mengatakan,

أنزل القرآن جملة إلى السماء الدنيا ليلة القدر، ثم نزل بعد ذلك في عشرين سنة

Al-Quran turun secara utuh ke langit dunia pada saat lailatul qadar. Kemudian setelah itu, turun selama 20 tahun. (HR. Nasai dalam al-Kubro, 11372).

As-Suyuthi juga menyebutkan keterangan al-Hafidz Ibnu Katsir yang menyebutkan riwayat bahwa ulama sepakat al-Quran diturunkan utuh ke Baitul Izzah di langit dunia. Ibnu Katsir mengatakan,

وحكى الإجماع على أن القرآن نزل جملة واحدة من اللوح المحفوظ إلى بيت العزة في السماء الدنيا

Disebutkan adanya ijma’ bahwa al-Quran turun secara utuh dari lauhul mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/502 dan al-Itqan, 1/118).

Allahu a’lam.

 

Bagaimana Metode Nabi Dalam Menerima Wahyu

“Allah menyempurnakan kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam wahyu dalam beberapa cara/metode.

Pertama : Melalui mimpi yang benar. Ini merupakan metode turunnya wahyu pertama kepada beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau tidaklah bermimpi melainkan datang seperti terbitnya subuh (dalam artian sangat jelas).

Kedua : Berupa sesuatu yang dibisikkan malaikat pada ruh dan hati beliau tanpa dapat beliau lihat. Hal ini sebagaimana sabda beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

إِنَّ رُوحَ القُدُسِ نَفَثَ في رُوعي أَنّه لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتكْمِلَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا في الطَّلَبِ، وَلاَ يَحْمِلَنّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ عَلَى أَن تَطْلُبُوهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ، فَإِنَّ مَا عِنْدَ اللهِ لاَ يُنَالُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

“Sesungguhnya Ruhul Quds (Malaikat Jibril ‘alaihissalam) menghembuskan/membisikkan ke dalam hatiku bahwa jiwa seseorang tidak akan mati hingga sempurna rizkinya. Maka bertaqwalah kepada Allah dan perindahlah cara mencari rizki. Janganlah keterlambatan rizki membuat kalian mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya rizki yang ada di sisi Allah tidak dapat diraih melainkan dengan keta’atan kepada –Nya” (HR. Thobroni 166/VIII, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 26-27/X. Hadits ini dinilai shohih karena banyak jalur penguatnya oleh pentaqiq Zaadul Ma’ad).

Ketiga : Biasanya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam didatangi malaikat yang menyerupakan dirinya sebagai seorang laki-laki. Kemudian malaikat tersebut mengajak beliau bicara hingga beliau memahami dengan baik apa yang disampaikan kepadanya. Terkadang para shahabat pun dapat melihat malaikat tersebut (HR. Muslim 1 dan 8.)

Keempat : Terkadang wahyu mendatangi beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam seperti gemerincing lonceng diikuti adanya malaikat yang menyampaikan wahyu secara samar. Metode ini merupakan metode yang paling berat hingga kening beliau berkerut dan bersimbah peluh padahal itu terjadi pada saat cuaca yang sangat dingin. Hingga mengakibatkan onta beliau tersimpuh di tanah apabila beliau sedang menungganginya. Sungguh wahyu datang sekali dengan cara semisal ini ketika beliau berada di pangkuan Zaid bin Tsabit Rodhiyallahu ‘anhu. Maka beliaupun merasakan beban Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam demikian berat hingga membuat pahanya remuk.

Kelima : Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melihat malaikat dalam rupa aslinya sebagaimana Allah ciptakan. Kemudian diwahyukanlah kepada beliau sebagaimana yang Allah kehendaki. Hal ini terjadi dua kali sebagaimana Allah sebutkan dalam surat An Najm ayat 7 dan 13. (berikut kami cantumkan ayat tersebut,

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى . عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى . ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى . وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى .

“Sesungguhnya hal itu hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi”. [QS. An Najm (53) : 4-7].

Dan juga,

وَلَقَدْ رَآَهُ نَزْلَةً أُخْرَى

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain”.[QS. An Najm (53) : 13].

السادسة: ما أوحاه الله وهو فوق السماواتِ ليلَة المعراج مِن فرض الصلاة وغيرها.

Keenam : Berupa wahyu yang diwahyukan kepada beliau ketika beliau berada di atas langit pada malam mi’roj ketika diwajibkannya sholat dan lainnya.

Ketujuh : Berupa Kalamullah/ucapan Allah kepada beliau langsung tanpa perantara malaikat. Hal ini terjadi sebagaimana Allah berbicara kepada Nabi Musa bin ‘Imroon. Metode ini telah sah terjadi pada Nabi Musa ‘alaihissalam secara pasti sebagaimana telah jelas di dalam Al Qur’an. Sedangkan terjadi pada Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam secara pasti sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang peristiwa ‘Isro’.

Sebagian ulama menambahkan metode turunnya wahyu ini menjadi delapan yaitu Allah berbicara kepada beliau tanpa adanya hijab. Pendapat ini dibangun oleh ulama yang berpendapat bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melihat Robbnya Tabaroka wa Ta’ala. Namun hal ini merupakan permasalahan yang diperselisihkan baik kalangan ulama salaf/terdahulu maupun kholaf/belakangan. Walapun mayoritas shahabat bahkan semuanya termasuk ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anhum sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Utsman bin Sa’id Ad Darimiy adanya ijma’ para shahabat tentang hal itu”. Namun pendapat terakhir ini dinilai tidak benar oleh penulis Ar Rokhiqil Makhtum Syaikh Shofiyurrohman Al Mubarokfuriy.

 

Doa Yang Dibaca Saat Lailatul Qadar

Apa do’a yang dianjurkan banyak dibaca pada malam yang mungkin adalah malam lailatul qadar?

Ada do’a yang pernah diajarkan oleh Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam jikalau kita bertemu dengan malam kemuliaan tersebut yaitu do’a: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ  قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hadits ini dibawakan oleh Imam Tirmidzi dalam bab “Keutamaan meminta maaf dan ampunan pada Allah”. Hadits di atas disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom pada hadits no. 706.

Maksud dari “innaka ‘afuwwun” adalah yang banyak memberi maaf. Demikian kata penulis kitab Tuhfatul Ahwadzi.

Para ulama menyimpulkan dari hadits di atas tentang anjuran memperbanyak do’a “Allahumma innaka ‘afuwwun …” pada malam yang diharap terdapat lailatul qadar. Do’a di atas begitu jaami’ (komplit dan syarat makna) walau terlihat singkat. Do’a tersebut mengandung ketundukan hamba pada Allah dan pernyataan bahwa dia tidak bisa luput dari dosa. Namun sekali lagi meminta ampunan seperti ini tidaklah terbatas pada bulan Ramadhan saja.

Al Baihaqi rahimahullah berkata, “Meminta maaf atas kesalahan dianjurkan setiap waktu dan tidak khusus di malam lailatul qadar saja.” (Fadho-ilul Awqot, hal. 258).

Ibnu Rajab rahimahullah juga memberi penjelasan menarik,

و إنما أمر بسؤال العفو في ليلة القدر بعد الإجتهاد في الأعمال فيها و في ليالي العشر لأن العارفين يجتهدون في الأعمال ثم لا يرون لأنفسهم عملا صالحا و لا حالا و لا مقالا فيرجعون إلى سؤال العفو كحال المذنب المقصر

“Dianjurkan banyak meminta maaf atau ampunan pada Allah di malam lailatul qadar setelah sebelumnya giat beramal di malam-malam Ramadhan dan juga di sepuluh malam terakhir. Karena orang yang arif adalah yang bersungguh-sungguh dalam beramal, namun dia masih menganggap bahwa amalan yang ia lakukan bukanlah amalan, keadaan atau ucapan yang baik (sholih). Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun pada Allah seperti orang yang penuh kekurangan karena dosa.”

Yahya bin Mu’adz pernah berkata,

ليس بعارف من لم يكن غاية أمله من الله العفو

Bukanlah orang yang arif jika ia tidak pernah mengharap ampunan Allah.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 362-363).

Hadits ‘Aisyah di atas juga menunjukkan bahwa do’a di malam lailatul qadar adalah do’a yang mustajab sehingga dia bertanya pada Rasul mengenai do’a apa yang mesti dipanjatkan di malam tersebut.

Hadits ‘Aisyah juga menunjukkan bahwa jika seseorang berdo’a pada Allah diperantarai dengan tawassul melalui nama-nama Allah. Seperti dalam do’a terlebih dahulu memuji Allah dengan ‘Allahumma innaka ‘afuwwun, yaitu Ya Allah yang Maha Pemberi Maaf’. Bentuk do’a semacam ini adalah bertawassul terlebih dahulu dengan nama atau sifat  Allah yang sesuai dengan isi do’a.

Dalil di atas juga menunjukkan bahwa sifat ‘afwu (pemaaf) adalah di antara sifat Allah. Maksud ‘afwu adalah memaafkan dosa yang diperbuat hamba. Begitu pula hadits tersebut menetapkan sifat mahabbah (cinta) bagi Allah. Penetapa sifat di sini adalah sesuai dengan keagungan Allah, tanpa dimisalkan dengan makhluk dan tanpa ditolak maknanya. Wallahu a’lam.

Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar

Ibnu Hajar Al Asqolani berkata,

وَقَدْ وَرَدَ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ عَلَامَاتٌ أَكْثَرُهَا لَا تَظْهَرُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَمْضِي

“Ada beberapa dalil yang membicarakan tanda-tanda lailatul qadar, namun itu semua tidaklah nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu.” (Fathul Bari, 4: 260).

Di antara yang menjadi dalil perkataan beliau di atas adalah hadits dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,

هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.

Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Muslim no. 762).

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء

Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18: 361. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 5475.)

Jika demikian, maka tidak perlu mencari-cari tanda lailatul qadar karena kebanyakan tanda yang ada muncul setelah malam itu terjadi. Yang mesti dilakukan adalah memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan, niscaya akan mendapati malam penuh kemuliaan tersebut.

 

Tanda Orang Yang Mendapatkan Lailatul Qodar

Pertama, lailatul qadar terjadi sepanjang malam, sejak maghrib hingga subuh. Allah berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr: 3 – 5)

Karena lailatul qadar berada pada rentang dari maghrib sampai subuh, maka peristiwa apapun yang terjadi sepanjang rentang itu berarti terjadi pada lailatul qadar. Sehingga,

  • Orang yang shalat maghrib di malam itu berarti dia shalat maghrib ketika lailatul qadar
  • Orang yang shalat isya di malam itu berarti dia shalat isya ketika lailatul qadar
  • Orang yang shalat tarawih di malam itu berarti dia shalat tarawih ketika lailatul qadar
  • Orang yang sedekah di malam itu berarti dia sedekah ketika lailatul qadar

Kedua, semua orang yang melakukan ibadah ketika itu, berarti dia telah melakukan ibadah di lailatul qadar. Besar dan kecilnya pahala yang dia dapatkan, tergantung dari kualitas dan kuantitas ibadah yang dia kerjakan di malam itu.

Oleh karena itu, sekalipun dia hanya mengerjakan ibadah wajib saja, shalat maghrib dan isya di malam qadar, dia mendapatkan bagian pahala beribadah di lailatul qadar.

Imam Malik meriwayatkan secara balaghan (tanpa sanad), menukil keterangan Said bin Musayib (tabiin senior, menantu Abu Hurairah) tentang orang yang beribadah ketika lailatul qadar.

أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ كَانَ يَقُولُ: مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا

Bahwa Said bin Musayib pernah mengatakan, “Siapa yang ikut shalat isya berjamaah di lailatul qadar, berarti dia telah mengambil bagian lailatul qadar.” (Muwatha’ Malik, no. 1146).

Az-Zarqani menjelaskan,

فقد أخذ بحظه منها، أي: نصيبه من ثوابها

“dia telah mengambil bagian lailatul qadar” maknanya dia mendapat bagian dari pahala lailatul qadar. (Syarh az-Zarqani ‘ala Muwatha, 3/463).

Ketiga, keterangan di atas bukan mengajak kita untuk bermalas-malasan dalam meraih kemuliaan lailatul qadar. Sebaliknya, dengan penjelasan ini diharapkan kaum muslimin semakin optimis dalam mengejar lailatul qadar, karena semua orang yang beribadah di dalamnya pasti mendapatkannya. Banyak dan sedikitnya, tergantung dari kesungguhan dirinya dalam mendekatkan diri kepada Allah. Mereka yang bersungguh-sungguh, akan mendapatkan petunjuk, sehigga dimudahkan Allah mendapatkan banyak kebaikan di malam itu.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut: 69)

Keempat, keyakinan bahwa orang yang mendapat lailatul qadar akan mengalami kejadian luar biasa, adalah keyakinan yang tidak benar. Bukan syarat untuk mendapat lailatul qadar harus mengalami kejadian aneh atau kejadian luar biasa.

Bahkan karena keyakinan ini, banyak orang menjadi pesimis dan mutung untuk beribadah. Karena merasa sudah sering ibadah di malam-malam ganjil, namun ternyata selama dia beribadah tidak mendapatkan kejadian aneh apapun.

Untuk itu, keyakinan ini tidak selayaknya ditanamkan dalam diri kita dan masyarakat sekitar kita.

 

Penutup

InsyaAllah pembaca setelah membaca pembahasan yang panjang lebar ini sekarang sudah memahami segala permasalahan mengenai Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar. Silakan menjawab pertanyaan yang telah ditulis di bagian awal artikel untuk mengetes pemahaman pembaca akan isi artikel di kolom komentar di bawah ini. Jika ada pertanyaan, kritik, maupun saran yang membangun silakan juga tulis di kolom komentar di bawah ini. InsyaAllah akan dijawab oleh penulis. Barokallahu Fiikum

Muhammad Firdaus – Yogyakarta 22-23 Juni 2016

Artikel Rujukan

  1. https://konsultasisyariah.com/25152-makna-nuzulul-quran.html
  2. https://alhijroh.com/aqidah/beragam-metode-turunnya-wahyu/.
  3. https://rumaysho.com/3513-doa-malam-lailatul-qadar.html
  4. https://muslim.or.id/17645-kajian-ramadhan-17-tanda-lailatul-qadar-dan-kapan-lailatul-qadar-terjadi.html
  5. https://konsultasisyariah.com/23109-kapan-seseorang-dikatakan-mendapatkan-lailatul-qadar.html

 

 

Share
6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *