Makna Ilmiah Dalam Sains Dan Agama

Bismillah.
Kata Ilmiah berasal dari kata Ilmu. Ilmu dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) bermakna suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode metode tertentu. Dalam bahasa arab ilmu (علم) adalah mashdar dari kata (علم – يعلم) yang memiliki arti tahu atau mengetahui.

Maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa makna dari ilmu adalah suatu pengetahuan yang memiliki dasar/referensi yang benar/valid berdasarkan suatu kaidah tertentu.

Apa yang dimaksud ilmiah dalam ilmu sains?

Dalam dunia Sains / ilmu pengetahuan alam, sesuatu bisa disebut ilmiah jika memiliki dasar yang benar, dan sesuatu yang tidak memiliki dasar sama sekali atapun memiliki dasar namun tidak valid tidak bisa disebut ilmiah.

Misal: Mengapa jika kita meninggalkan bensin dalam keadaan terbuka bensin tersebut akan berkurang dan lama kelamaan akan habis?

Penjelasan Ilmiah :
Bensin tersebut berkurang karena terjadinya proses penguapan. Bensin memiliki titik uap yang rendah, yaitu initial boiling point = 35 °C. Maka bensin yang ditinggalkan terbuka pada suhu ruangan akan berubah dari fase cair ke fase gas secara perlahan lahan.

Penjelasan Tidak Ilmiah:
Bensin tersebut lenyap dijadikan tumbal untuk jin penunggu rumah atau bensin tersebut memang tradisinya dari dulu ya kalau ditinggalkan ya akan berkurang, kita tidak perlu bertanya dan menyelidikinya.

 

Lalu bagaimana yang dimaksud ilmiah dalam Beragama?

Maka mirip seperti dalam sains dalam masalah beragama pun yang disebut ilmiah kita harus memiliki dasar dalam setiap ibadah dan kepercayaan kita dalam perihal agama.

Khususnya dalam masalah agama islam dasar kita yang mutlak 100% benar dan tidak dapat dibantah adalah Al Qur’an dan Al Hadits (As Sunnah).

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda: ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaitan yang menyeru kepadanya.’ Selanjutnya beliau membaca firman Allah Jalla wa ’Ala: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.’” [Al-An’aam: 153] (Hadits shahih riwayat Ahmad (I/435, 465), ad-Darimy (I/67-68), al-Hakim (II/318), Syarhus Sunnah oleh Imam al-Baghawy (no. 97), dihasankan oleh Syaikh al-Albany dalam as-Sunnah libni Abi Ashim (no. 17))

Namun untuk memahami Al Qur’an dan Al Hadits dibutuhkan suatu metode yang juga harus valid yaitu Ijma’ (Kesepakatan dan pemahaman dari Para Shahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, radhiyallahu anhun ajma’in).

Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan :

إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ.

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahlul Kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga, yaitu al-Jama’ah.”

(HR. Abu Dawud (no. 4597), Ahmad (IV/102), al-Hakim (I/128), ad-Darimy (II/241), al-Aajury dalam asy-Asyariah, al-Laalikaaiy dalam as-Sunnah (I/113 no.150). Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dari Muawiyah bin Abu Sufyan.  Dishahihkan oleh Syaikh al-Albany. Lihat Silsilatul Ahaadits Shahihah (no. 203 dan 204).)

Dalam riwayat lain disebutkan:

كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَةً وَاحِدَةً: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.

“Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para Shahabatku berjalan di atasnya.”

(HR. At-Tirmidzi (no. 2641) dari Shahabat Abdullah bin Amr, dan di-hasan-kan oleh Syaikh al-Albany dalam Shahihul Jami (no. 5343).)

Karena jika kita tidak memiliki suatu metode/kaidah dalam memahami Al Qur’an dan Al Hadits pemahaman kita akan rancu. Kita mungkin malah berpikir ada ayat/hadits satu yag bertentangan dengan ayat/hadits yang lain. Kemudian jika tidak ada kaidah yang jelas, tiap orang/golongan bisa seenaknya menafsirkan makna ayat/hadits. Inilah salah satu sebab dari mengapa timbul perpecahan dan munculnya beragam aliran dalam Islam.

Maka apapun yang berhubungan dengan masalah agama kita harus memiliki dasar dulu dari Al Qur’an dan As Sunnah kemudian melihat bagaimana para shahabat memahaminya. Jika seseorang melakukan perbuatan atau memiliki kepercayaan yang tidak ada dasar nya dari Al Quran ataupun As Sunnah, ataupun memiliki dasar namun tidak sesuai dengan contoh para shahabat nabi. Maka seseorag tersebut telah melakukan Bid’ah (Ajaran baru yang dibuat buat). Padahal banyak sekali hadits maupun ayat Al Quran yang melarang kita untuk berbuat Bid’ah.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maa-idah: 3]

مَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ »

Kemudian daripada itu, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Al-Qur’an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang baru dan semua bid’ah adalah kesesatan” (HR Muslim no 2042).

 

Apakah mungkin ada Ajaran Agama Islam dalam Al Quran dan Al Hadits yang bertentangan dengan Sains / Ilmu Pengetahuan Alam?

Tidak Mungkin Ada

Karena baik ajaran Agama Islam baik yang berasal dari Al Quran maupun Al Hadits dan Sains sama sama berasal dari satu sumber yang sama yaitu Allah Subhanallahu Wa Taala. Dan bukankah Allah Ta’ala pencipta langit dan bumi, dan mengetahui segala sesuatu?

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Qs. Al Imron : 190-191).

Namun jika kelihatan bertentangan, maka ada dua kemungkinan, teori sains nya yang salah ataukah akal manusia yang belum bisa menjangkaunya.

Permisalan teori sains yang salah: Teori evolusi yang mengatakan manusia memiliki keturunan yang sama dengan kera (Teori Darwin), dan awalnya kera dan semua makhluk hidup lainnya berasal dari asam amino / protein  yang terbentuk secara kebetulan dan kemudian berkembang menjadi makhluk hidup (Teori Oparin)

Padahal Allah berfirman:

“Sesungguhnya permisalan Isa di sisi Allah adalah seperti permisalan Adam. Allah menciptakannya dari tanah” (Ali Imron:59)

Dan Rasulullah bersabda:

“Allah menciptakan Adam tingginya 60 hasta (+/- 30 m), kemudian Allah berkata kepadanya, “Pergilah, ucapkan salam kepada malaikat itu. Dengarkanlah penghormatan mereka kepada mu, karena itu adalah penghormatanmu dan penghormatan anak cucumu”. Maka Adam berkata, “Assalamu’alaikum”. Mereka menjawab, “Assalamu’alaika wa rahmatullah dengan tambahan ‘warahmatullah’. dan semua orang yang masuk surga dengan bantuk penciptaan Adam. Dan manusia terus menerus menyusut sampai saat ini”. (HR. Bukhari 3/11 no. 6277, 6/332 no. 3326 dan Muslim 4/2183 no. 2841.)

Permisalan ayat atau hadits yang akal manusia belum bisa menjangkaunya:
Dimana langit yang 7 tingkatan? Tentang surga dan neraka? Kenapa kita disunnahkan membunuh cicak padahal cicak makan nyamuk yang berbahaya bagi manusia? Bagian sayap lalat yang mana yang mengandung racun dan yang mana yang mengandung penawar racunnya?

Pada kasus yang demikian maka kita tetap harus menerima dan taat (sami’na wa atho’na). Walaupun tidak dilarang untuk kita mencari hikmah dari masalah tersebut.

Yaa Muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alad diinik. Yaa Mushorrifal qulub shorrif qulubana ‘alath thoatik

Wahai sang pembolak balik hati, tetapkanlah hati kami pada kebenaran. Wahai sang pengubah hati ubahlah hati kami pada kebenaran.

Muhammad Firdaus (muslimilmiah.wordpress.com) – Yogyakarta, 17 Juni 2016

Referensi:

  1. Al Qur’an dan Al Hadits
  2. Kamus Besar Bahasa Indonesia
  3. https://almanhaj.or.id/1276-kewajiban-ittiba-mengikuti-jejak-salafush-shalih-dan-menetapkan-manhajnya.html
  4. https://almanhaj.or.id/3424-setiap-perkara-baru-yang-tidak-ada-sebelumnya-di-dalam-agama-adalah-bidah.html
  5. https://muslim.or.id/19295-larangan-terhadap-bidah-dalam-al-quran.html
  6. https://muslim.or.id/25618-bagaimana-allah-menciptakan-langit-dan-bumi.html
  7. https://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/17/al-quran-membantah-teori-evolusi-darwin/
  8. http://al-atsariyyah.com/kufurnya-teori-evolusi-darwin.html
  9. http://www.materisma.com/2014/03/teori-asal-usul-kehidupan-teori-evolusi.html

 

Share
6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *