Manhaj Salaf Dengan Cendekiawan dan Ilmuwan Muslim

Pernahkah engkau berpikir, kenapa banyak mahasiswa, dosen, ilmuwan dan cendikiawan muslim di zaman ini yang ikut mengikuti manhaj salaf?

Seperti diantaranya:

  1. Andy Octavian Latief (Juara 1 IPhO, Olimpiade Fisika Internasional 2006)
  2. Tri Agung Rohmat (Dosen Teknik Mesin UGM)
  3. Agung Panji Widiyanto (Sarjana Kedokteran UGM)
  4. Sri Darma Krida (Ketua Komunitas Ilmuwan Dan Profesional Muslim Indonesia (KIPMI))
  5. Dr Fathul Bari Mat Jahya MA (CEO Ilmuwan Islam Malaysia)

Kemungkinan salah satu sebabnya adalah karena ketika manusia mencapai tahapan pendidikan yang cukup tinggi, akan timbul dalam hatinya perasaan ingin mencari kebenaran yang sesungguhnya. Baik kebenaran tentang masalah dunia seperti apakah makna sukses yang sebenarnya, apakah teori yang saya pelajari di kuliah ini benar adanya, maupun tentang masalah akhirat. menetapi manhaj salafSeperti: apakah islam adalah agama yang benar, jika islam agama yang benar maka islam seperti apakah yang benar-benar islam.

Karena jika kita mau membuka mata maka kita ketahui bahwa islam sekarang terpecah belah menjadi banyak sekali golongan. Seperti di indonesia saja ada: Salafiy (Manhaj Salaf/Ahlus sunnah wal jamaah/Sunni), NU, Muhammadiyyah, PKS (Ikhwanul Muslimin/tarbiyah), HTI, LDII, JT, JIL, MTA, Jim, Sufi tarekat naqsabandiyah, Syiah, dan lain-lain.

Lalu islam mana yang benar??

Tidak usah bingung karena sebenarnya sudah tertanam di hati kita semua, bahwa islam yang benar adalah islam yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah.

Tapi semua aliran juga mengaku mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah. Jadi gimana??

Jawabannya adalah kita lihat bagaimana cara aliran itu dalam memahami dan menafsirkan dalil Al Qur’an dan As Sunnah, apakah tujuan yang ingin dicapai, dan apakah prinsip dasar yang dipegang, serta bagaimana sejarah dari munculnya aliran itu.

Maka jika kita sudah melakukan itu semua, insyaAllah dengan mudah kita bisa mengetahui yang mana Islam yang benar.

Manhaj salaf berpegang teguh pada Al Qur’an dan Al Hadits, yang dipahami dengan pemahaman Salafush Shalih (Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in). Manhaj artinya jalan atau prinsip, sedangkan salaf maksudnya generasi salafush shalih 3 generasi islam yang pertama. Tujuan manhaj salaf adalah menegakkan Tauhid dan ajaran islam sesuai Al Qur’an dan As Sunnah. Prinsip manhaj salaf adalah mengembalikan semua permasalahan pada dalil Al Qur’an dan As Sunnah. Sejarah manhaj salaf adalah sejarah Islam itu sendiri, karena manhaj salaf adalah nama lain dari ahlussunnah wal jamaah itu sendiri, yang dulu awalnya islam hanya ada ahlus sunnah dan syiah (melebihkan Ali Ibn Abi Thalib Radhiyallahu anhu dari Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam). Ajaran yang didakwahkan manhaj salaf selalu berdasar dalil ilmiah dari Al Qur’an dan As Sunnah, tidak membuat ajaran baru (bid’ah), tidak ada taklid buta pada kiai, ustadz ataupun imamnya, tidak memberontak pada pemerintah muslim dan mengkafirkan kaum muslimin, serta tidak pula mempertahankan tradisi yang bertentangan dengan ajaran islam.

Jika kita mempelajari sejarah islam akan kita dapatkan bahwa aqidah yang diikuti oleh para ahli hadits seperti Al Bukhari, Muslim, Tirmidzi, An Nasai, dan lainnya serta imam 4 Madzhab: Imam Abu Hanifah (Hanafi), Imam Malik (Maliki), Imam syafii, dan Imam Ahmad ibn Hambal (Hambali), mereka semua mengikuti manhaj salaf yang ajarannya terus didakwahkan oleh ulama-ulama penerusnya, seperti imam nawawi, ibnul jauzi, ibnul qoyyim, syeikh muhammad ibn abdul wahab, dan seterusnya hingga sampai ke indonesia, didakwahkan oleh para ustadz, seperti

  1. Ustadz Abdullah Hadrami di Malang (Murid Syeikh Utsaimin Unaizah, Arab Saudi. Pendiri Radio Dakwah Islamiyah di Malang) [www.kajianislam.net]
  2. Ustadz Aris Munandar M.Si, di Yogyakarta (Pengajar Pondok Hamalatul Qur’an) [www.ustadzaris.com]
  3. Ustadz Abduh Tuasikal M.Sc, di Yogyakarta (S2 di KSU Arab Saudi. Pimpinan pondok darush shalihin, Gunung Kidul Yogyakarta) [www.rumaysho.com]
  4. Ustadz Firanda Andirja Lc., MA., di Jakarta (S3 Aqidah di Universitas Islam Madinah. Pengajar tetap di Masjid Nabawi. Dosen di SDIT Jember) [www.firanda.com]
  5. Ustadz Abdullah Zaen Lc.,MA., di Purbalingga Jawa Barat (Cumlaude S2 Aqidah di Universitas Islam Madinah) [www.tunasilmu.com’]
  6. Ustadz DR. Erwandi Tarmizi MA., di Pekanbaru (S3 Ushul Fiqh Universitas Islam Al Imam Muhammad bin Saud. Penulis buku best seller Harta Haram Muamalat Kontemporer) [http://erwanditarmizi.com]

dan Ustadz-ustadz yang lain, yang dakwahnya tersebar di seluruh pelosok Indonesia dan seluruh negara di dunia. Manhaj/jalan yang lurus ini kiranya akan berlanjut didakwahkan ajarannya hingga sampai hari kiamat

Lalu apa hubungannya dengan mahasiswa, ilmuwan dan cendikiawan?

Dibutuhkan usaha yang cukup melelahkan untuk mempelajari aliran islam satu persatu dan mencari jalan manakah yang merupakan jalan yang benar. Maka dibutuhkan niat dan kemauan kuat, dan diantara golongan manusia yang memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut adalah mahasiswa, ilmuwan dan cendikiawan , yang selalu berpikir kritis dan semua harus memiliki dasar yang ilmiah.

Yaa Muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alad diinik. Yaa Mushorrifal qulub shorrif qulubana ‘alath thoatik

Wahai sang pembolak balik hati, tetapkanlah hati kami pada agama Mu. Wahai sang pemaling hati palingkanlah hati kami pada ketaatan pada Mu.

Muhammad Firdaus – 15 Juni 2016

Share
6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *